Di antara dua pegunungan tinggi yang selalu diselimuti kabut, terdapat sebuah wilayah hutan yang tidak pernah tercatat dalam peta resmi. Penduduk sekitar menyebutnya Hutan Tak Bertuan, karena tidak ada desa, tidak ada pos penjaga, dan tidak ada satu pun manusia yang benar-benar mengklaim wilayah itu sebagai bagian dari dunia mereka.
Namun justru karena ketidakjelasan itulah, hutan tersebut sering menjadi tempat perburuan rahasia bagi sebagian orang yang mencari hewan langka atau sekadar menguji keberanian. Dari semua cerita yang beredar, satu kejadian menjadi legenda paling menakutkan: perburuan yang berubah menjadi mimpi buruk.
Kisah itu bermula ketika sekelompok pemburu berpengalaman memasuki Hutan Tak Bertuan pada awal musim hujan. Mereka dipimpin oleh seorang pria bernama Harun, yang dikenal tidak pernah gagal dalam setiap perburuan. Dengan perlengkapan lengkap, mereka percaya hutan itu hanya tantangan biasa.
Hari pertama berjalan lancar. Jejak rusa terlihat jelas, dan mereka berhasil menemukan beberapa tanda keberadaan hewan buruan. Namun memasuki hari kedua, suasana mulai berubah.
Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Sinyal komunikasi hilang, dan kompas yang mereka bawa mulai menunjukkan arah yang tidak masuk akal. Yang paling aneh, suara binatang tiba-tiba menghilang sepenuhnya.
Seolah hutan itu sedang mengawasi mereka.
Saat malam tiba, salah satu pemburu mengaku mendengar suara langkah kaki mengelilingi perkemahan mereka. Namun setiap kali senter diarahkan ke sekeliling, tidak ada apa pun yang terlihat. Hanya pepohonan tinggi dan kegelapan yang pekat.
Harun mencoba menenangkan kelompoknya, tetapi ketegangan sudah mulai menyebar.
Pada malam ketiga, sesuatu terjadi.
Api unggun mereka tiba-tiba padam tanpa angin. Dari kejauhan terdengar suara ranting patah, diikuti geraman pelan yang tidak berasal dari hewan yang mereka kenal. Dalam hitungan detik, kabut menebal hingga jarak pandang hanya beberapa meter.
Salah satu pemburu berteriak. Ia mengaku melihat sesuatu berdiri di antara pohon-pohon—tinggi, gelap, dan bergerak terlalu cepat untuk bisa dikenali.
Kepanikan pecah.
Mereka berlari ke berbagai arah tanpa sempat membawa perlengkapan. Hutan yang sebelumnya tampak biasa berubah menjadi labirin gelap yang menelan setiap langkah mereka.
Keesokan paginya, hanya dua orang yang berhasil keluar dari Hutan Tak Bertuan. Mereka ditemukan dalam keadaan shock berat, tanpa senjata, tanpa makanan, dan tanpa Harun.
Yang tersisa hanya cerita mereka yang tidak konsisten. Namun ada satu hal yang sama dari keduanya: mereka bersumpah bahwa hutan itu tidak pernah benar-benar membiarkan mereka pergi.
Tim pencari kemudian masuk untuk menemukan sisa kelompok tersebut, tetapi hanya menemukan perkemahan yang hancur, jejak kaki besar yang mengarah ke dalam hutan, dan senapan Harun yang patah menjadi dua.
Tidak ada tanda kehidupan lain.
Sejak saat itu, Hutan Tak Bertuan semakin dihindari. Penduduk sekitar percaya bahwa hutan itu bukan sekadar wilayah liar, melainkan sesuatu yang memiliki kehendaknya sendiri—dan tidak semua manusia diizinkan untuk keluar setelah masuk ke dalamnya.
Hingga kini, setiap musim hujan tiba, beberapa orang masih mengaku mendengar suara langkah di antara pepohonan. Seolah perburuan itu belum pernah benar-benar berakhir.