
Selat Hormuz, jalur laut tersibuk di dunia yang menjadi urat nadi perdagangan energi global, kini mencatat peningkatan jumlah kapal yang berhasil melewati perairan strategis tersebut meskipun dalam kondisi konflik yang masih berlangsung antara Iran dan pihak barat, termasuk Amerika Serikat dan sekutunya. Peningkatan aktivitas pelayaran ini menjadi sorotan utama ekonomi, maritim, dan geopolitik internasional karena Selat Hormuz memegang peran vital dalam distribusi minyak dan gas dunia.
Konflik dan Penutupan Sementara Selat Hormuz
Sejak akhir Februari 2026, ketika konflik berskala besar meletus antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, Selat Hormuz mengalami gangguan lalu lintas pelayaran. Iran sempat memperketat kontrol dan membatasi akses kapal dari negara-negara tertentu karena situasi keamanan. Beberapa laporan bahkan menyebut berbagai serangan terhadap kapal-kapal komersial dan tanker di perairan dekat selat.
Penutupan atau pembatasan akses tersebut berdampak langsung pada lebih dari 2.000 kapal yang terpaksa menunggu di luar perairan Selat Hormuz, dan menyebabkan gangguan besar dalam rantai pasok energi global. Gangguan ini juga memicu kenaikan harga minyak dunia dan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi, karena biasanya sekitar 20 persen minyak dan gas cair (LNG) dunia dipasok melalui selat ini setiap hari.
Namun belakangan data menunjukkan bahwa meskipun belum kembali normal, jumlah kapal yang berhasil melintas meningkat secara bertahap.
Kapal dari Berbagai Negara Mulai Melintas
Beberapa laporan internasional mencatat bahwa sejumlah kapal dagang dan tanker dari negara-negara tertentu telah diizinkan atau berhasil melintas Selat Hormuz setelah koordinasi dengan pihak berwenang Iran. Pergerakan kapal ini bukan sekadar simbol pemulihan rute, tetapi juga tanda bahwa negara-negara di luar konflik mulai mencari solusi untuk menjamin aliran energi dan barang di tengah ketegangan geopolitik.
Salah satu contoh terbaru adalah pelayaran kapal kontainer yang dimiliki perusahaan Prancis dan berbendera Malta yang telah berhasil melewati Selat Hormuz, menandai kapal pertama dari pengusaha barat yang melakukan pelayaran normal melalui jalur tersebut sejak konflik berlangsung. Kapal ini berangkat dari perairan luar Teluk Persia dan berhasil keluar ke wilayah selatan Selat Hormuz menuju Samudra Hindia, menunjukkan adanya koordinasi teknis dan diplomatik untuk memastikan keselamatan navigasi.
Selain kapal kontainer tersebut, beberapa kapal tanker besar berbendera Oman dan Jepang juga berhasil menyelesaikan transit. Data pelacakan menunjukkan setidaknya tiga tanker yang beroperasi di bawah perusahaan atau sekutu dari negara-negara ini berhasil melintas dalam beberapa hari terakhir. Salah satu kapal LNG Jepang bahkan tercatat sebagai kapal pertama yang membawa gas cair Jepang melewati selat sejak konflik diperparah.
Tren Kenaikan Lalu Lintas: Meski Belum Normal
Menurut data dari Badan Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) dan firma intelijen maritim Windward, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz menunjukkan tren kenaikan dari hari ke hari sejak awal April 2026. Misalnya pada 1 April tercatat sekitar 16 kapal transit, meningkat dari angka sebelumnya yang hanya sekitar 11 kapal per hari. Meski angka ini masih jauh dari kondisi normal (sekitar puluhan hingga ratusan kapal setiap harinya sebelum konflik), peningkatan ini menjadi sinyal awal adanya negosiasi diplomatik dan upaya pemulihan akses.
Mayoritas kapal yang melintas saat ini menggunakan rute yang relatif dekat dengan Pulau Larak, sebuah jalur yang diawasi ketat oleh otoritas Iran sebagai bagian dari mekanisme izin transit. Kapal-kapal tersebut sebagian besar telah mendapatkan izin atau pengawasan dari otoritas setempat, memperlihatkan bahwa Iran sedang menerapkan sistem yang lebih selektif untuk pergerakan melalui selat daripada penutupan total.
Peran Diplomasi dan Kesepakatan Negara
Agar kapal dapat melalui Selat Hormuz, beberapa negara tercatat telah berdiplomasi langsung dengan Teheran. Pemerintah negara seperti Pakistan, India, Turki, Filipina, dan China dikabarkan telah menyetujui ketentuan tertentu untuk melewati perairan tersebut, meskipun setiap negara memiliki persyaratan yang berbeda-beda dan peraturan keamanan yang ketat.
Iran, di sisi lain, justru membuka akses terbatas untuk armada tertentu sambil mempertahankan pembatasan terhadap kapal dari negara-negara yang dianggap pihak lawan dalam konflik. Misalnya, kapal yang terkait langsung dengan Amerika Serikat atau Israel belum mendapatkan persetujuan transit bebas. Pendekatan ini memunculkan istilah “izin transit selektif”, yang menunjukkan kombinasi antara kontrol keamanan dan kebutuhan ekonomi global terhadap rute perdagangan ini.
Bahkan beberapa pejabat Iran menyatakan bahwa mereka sedang merancang protokol baru untuk supervisi lalu lintas maritim di selat itu secara lebih permanen, bekerja sama dengan negara tetangga seperti Oman, yang telah berperan sebagai mediator di berbagai pembicaraan diplomatik regional.
Hambatan dan Tantangan
Walaupun ada tanda-tanda peningkatan lalu lintas kapal, masih banyak tantangan yang harus dihadapi sebelum Selat Hormuz sepenuhnya kembali normal. Banyak kapal komersial besar masih memilih untuk menunda transit karena ketidakpastian keamanan dan harga asuransi yang tinggi. Selain itu, kapal-kapal dari negara-negara tertentu masih mengalami penundaan administratif atau belum diberikan izin karena peraturan yang ketat dari otoritas Iran.
Kasus kapal nasional lain yang masih tertahan, seperti beberapa kapal tanker milik Indonesia, menunjukkan bahwa proses administratif dan koordinasi masih berjalan panjang meskipun ada komitmen dari Teheran untuk memperbolehkan lebih banyak kapal melewati rute strategis ini.
Dampak pada Ekonomi Global
Pembatasan sebelumnya di Selat Hormuz telah menyebabkan gangguan besar terhadap pasar energi global, karena selat ini merupakan titik transit utama untuk minyak mentah dan gas alam cair yang memasok banyak negara Asia, Eropa, dan dunia. Keterbatasan akses mengakibatkan kenaikan harga minyak dan mengancam stabilitas pasokan energi global.
Namun dengan meningkatnya jumlah kapal yang melalui selat ini, bahkan dalam jumlah kecil, tekanan pasar energi sedikit berkurang karena tanda-tanda pasokan mulai beradaptasi dengan situasi baru. Hal ini juga memberikan ruang diplomasi lebih lanjut antara negara-negara yang menjadi konsumen energi besar dengan otoritas Iran untuk membuka lebih banyak jalur perdagangan dalam kondisi aman.
Prospek Ke Depan
Tren kenaikan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz meskipun belum kembali normal menunjukkan bahwa arus perdagangan global masih berupaya bertahan di tengah kondisi geopolitik yang sulit. Keberhasilan beberapa kapal transit, terutama kapal dagang dan tanker dari negara-negara penting, menjadi berita penting dalam dinamika regional ini dan memberikan harapan bahwa solusi diplomatik masih mungkin ditempuh untuk menjaga jalur perdagangan vital ini tetap berfungsi.
Namun proses normalisasi lalu lintas pelayaran masih bergantung pada penyelesaian konflik yang lebih luas dan kepastian keamanan area tersebut. Dalam jangka menengah sampai panjang, keterlibatan diplomasi internasional, peran mediator regional, serta kebijakan otoritas Iran akan menjadi faktor utama dalam menentukan kapan Selat Hormuz dapat kembali menjadi jalur laut terbuka yang aman dan stabil bagi kapal dagang dari seluruh dunia.